Connect with us

Culture

Kerasukan Arwah Leluhur Demi Kesembuhan

Air kelapa, beras, dan telur ayam sudah tersedia di atas meja malam itu. Tidak ketinggalan kapur sirih, pinang dan tembakau menjadi satu dalam wadah sebagai sesajen Suku Kaili, Sulawesi Tengah. Adalah Ritual Balia Tampilangi yang akan dilaksanakan di kawasan pesisir Kota Palu. Ritual yang sudah mendarah daging sejak ratusan tahun yang lalu ini bertujuan untuk meminta kesembuhan, menyuburkan pertanian masyarakat Kaili, bahkan mencegah bencana alam.

Asal mula Tarian Balia Tampilangi adalah dari Tanah Taili, Sulawesi Tengah. Tarian ini dilakukan oleh kalangan bangsawan yang menempati daerah tersebut. Ritual ini kemudian berkembang dan meluas, lalu mulai banyak digunakan oleh masyarakat umum terutama di Palu, Donggala dan Parigi.

Namun nyatanya ritual ini sudah jarang dilakukan oleh generasi modern. Dalam ritual ini ada sepuluh prosesi yang harus dilakukan, antara lain ritual pompoura atau tala bala’a, ritual adat enje da’a, ritual tampilangi ulujadi, pompoura vunja, ritual manuru viata, ritual adat jinja, balia topoledo, vunja ntana, ritual tampilangi, dan nora binangga. Yang lebih ekstrim lagi dalam ritual ini masyarakat Kaili juga harus melakukan paluna Baraka atau bermain di atas bara api. Ritual ini dapat memakan waktu tujuh hari tujuh malam, tergantung tingkat keparahan penyakitnya.

Persiapan dimulai dengan berbagai bahan upacara dan hewan qurban, seperti ayam, kambing, bahkan kerbau putih. “Tujuan kita tetap meminta pertolongan Allah SWT, hanya ritual adat khas Suku Kaili tidak bisa kita hilangkan,” jelas Ketua Adat Kaili Hamlan Tenge.

Ketika persiapan rampung salah seorang pawang membaca berbagai mantra untuk memanggil arwah leluhur dan memberikan berbagai sesajen pada tiap prosesi. Tarian khas ritual ini juga wajib dilakukan untuk menemani orang yang sedang sakit.
“Kami hanya ingin ritual ini juga menjadi seni pertunjukkan, karena sekarang ini sudah tergerus dengan peradaban modern,” tambah Hamlan.

Foto/CNNIndonesia.com

Proses yang dilakukan dalam tarian ini adalah penari menyanyikan lagu daerah kuno dan diikiuti iringan musik dari gendang dan seruling Laluve. Mereka terus menyanyi dan mengelilingi tempurung kelapa yang sudah dibakar.

Saat para penari bernyanyi dan menari, mereka kemudian akan dirasuki oleh roh para leluhur dan mulai menginjak-injak tumpukan tempurung kelapa yang sudah menjadi bara panas. Karena sudah kerasukan arwah, mereka tidak merasakan panas bara api yang menjalar dikaki mereka. Oleh karena itu waktu yang tepat untuk melakukan ritual ini antara waktu magrib hingga malam hari.

 

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending