Connect with us

Tour

Sungai Buluh Kecil: Bertamu ke Sarang Orangutan di Atas ‘Cermin’ Raksasa

Sebenarnya sudah lama sekali saya mengetahui tentang Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kotawaringin Barat, Kalimatan Tengah. Tetapi baru pertengahan bulan Maret kemarin saya mendapat kesempatan mengunjungi salah satu tempat observasi Orangutan terbesar di dunia ini.

Pukul 06.30 WIB saya bersama rombongan sudah tiba di Pelabuhan Kumai, akses utama menuju TNTP. Di bawah langit berawan, saya berdoa sinar matahari memberikan energi positifnya untuk petualangan pertama saya di Tanah Borneo. Terlihat perahu untuk mengangkut wisatawan atau kelotok berbaris cukup rapih dari utara hingga selatan pesisir Sungai Kumai.

Saya akan menelusuri Sungai Buluh Kecil dengan menggunakan speedboat milik TNTP. Bagi saya nama Sungai Buluh Kecil terdengar sangat asing, karena TNTP sangat identik dengan Sungai Sekonyer. Setelah 90 menit dengan kecepatan rata-rata 80km/jam menyusuri Sungai Kumai, speedboat melambat untuk memasuki Sungai Buluh Kecil.

“Kalau di Sungai Buluh itu kita atraksinya lebih di air. Kita melihat satwa langsung di air, jadi tidak ada tracking,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kotawaringin Barat Drs. Wahyudi.

Doa saya terkabul, karena matahari pagi benar-benar muncul dan membuat refleksi cahaya di air sungai yang berwarna hitam di antara pohon nipah. Pagi itu langit seperti bercermin di atas sungai, sehingga menjadi objek foto pertama yang wajib saya abadikan di dalam kamera.

Tiba-tiba saya dikejutkan dengan sekawanan bekantan yang melompat dari batang pohon yang satu ke batang pohon lainnya. Bak sirkus, mereka terus memamerkan aksinya. Karena memiliki hidung yang besar, banyak yang menyebut Bekantan sebagai hewan primata yang paling tampan.

Perjalanan terus kami lanjutkan, karena kami belum menemukan primadona TNTP yaitu Orangutang. Hanya sesekali saya melihat feeding station atau tempat makan para Orangutan di sisi sungai. Semakin lama Sungai Buluh Kecil semakin menyempit. Hanya berjarak 3-4 meter lebar dari sisi kanan ke sisi kirinya, speedboat pun berjalan sangat lambat, sesekali saya melihat pepohonan berharap Orangutan menampakkan dirinya.

“Itu dia!” jerit salah satu teman. Tanpa basa-basi semua mata lensa tertuju pada satu Orangutan yang tengah bersantai di sarangnya. Saya melihat Orangutan dengan sangat jelas, hanya berjarak 7-10 meter saja. Suara shutter shoot dari kamera para pemburu foto menjadi backsound petualangan saya hari itu. Terasa indah dan manis ketika Orangutan bertingkah. Setiap geraknya tidak pernah luput dari bidikan lensa.

Sarang Orangutan

Sama halnya dengan manusia, Orangutan juga bisa membuat rumah atau sarang. Satwa endemik ini dikenal sebagai makhluk Aboreal (satwa yang menghabiskan sebagian besar waktu dan hidupnya di atas pohon untuk makan, minum, dan tidur). Orangutan membuat sarang dari ranting dan daun untuk melindungi diri dari panas dan hujan. “Biasanya Orangutan membuat sarang dekat dengan sumber makanan dan sumber air. Mereka membuat sarang hanya membutuhkan waktu 5-15 menit saja. Ketebalan dari sarang Orangutan sekitar 40-50 cm,” terang PEH, Humas dan Penyaji Data TNTP Evan Ekananda.

Untuk ketinggian rata-rata sarang Orangutan di atas pohon sekitar 5-7 meter, ada pula di ketinggian 11-20 meter di hutan dataran rendah. Bagi yang memiliki bayi biasanya membuat sarang hanya 5 meter saja. Sedangkan Orangutan dewasa baik jantan atau betina yang memiliki anak menjelang dewasa berusia 7-8 tahun biasanya membuat sarang dengan ketinggian 11-20 meter.

Dalam kesehariannya Orangutan akan terus berpindah membuat sarang baru. Mereka memiliki kemampuan untuk membedakan sarang milik mereka atau bukan. Menariknya, apabila mereka menemukan sarang mereka terdahulu, mereka akan memperbaikinya.

Cara unik lainnya adalah ketika Orangutan ingin menentukan batas wilayah mereka sendiri. Caranya, mereka akan berteriak dan sampai sejauh mana teriakkan mereka terdengar, maka sampai situlah batas wilayahnya. Bila ada jantan lain melanggar maka mereka akan berkelahi untuk menentukan pemenangnya. Penentuan batas wilayah ini tidak berlaku untuk betina, mereka bebas menentukan wilayah mereka, bahkan boleh masuk ke wilayah si jantan .

“Yang datang ke Sungai Buluh Kecil biasanya wisawatan-wisatawan yang butuh ketenangan dan menghindari semakin padatnya aktivitas di Sungai Sekonyer. Di sini, berbeda dengan di Sungai Sekonyer, melihat orang utan lebih di habitatnya di alam liar di atas sarang-sarangnya yang berada di atas pohon,” Pemandu dari Orang Utan Days dan juga Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kalimantan Tengah, Yomie Kamale.

Melihat Orangutan langsung dari sarangnya merupakan pengalaman pertama saya. Selain Sungai Buluh Kecil speedboat saya berlabuh di Tanjung Harapan. Berbeda dengan Sungai Buluh Kecil yang sepi dan sunyi, di Tanjung Harapan banyak sekali wisatawan nusantara maupun mancanegara yang ingin menikmati tingkah Orangutan yang menggemaskan.

Tanjung Harapan menyajikan sensasi petualangan di tengah hutan. Anda bisa menyaksikan Orangutan sedang bermain dan makan buah di feeding dengan jarak 20 meter.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending