Connect with us

Culture

Sifon, Tradisi Bersetubuh Setelah Sunat

Banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia saat khitan atau sunat. Baik itu dengan alat yang modern maupun tradisional. Karena sunat wajib hukumnya bagi kaum Adam untuk menjaga kesehatan dan mendapatkan kepuasan lebih saat bercinta, selain itu sunat juga sudah menjadi tradisi yang mendarah daging di Indonesia. Lalu, bagaimana jika sunat dilakukan dengan cara yang tidak lazim seperti yang dilakukan oleh Suku Antoni Meto, Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Suku ini memiliki keunikan sendiri dalam masalah sunat. Mereka menyebutnya dengan sifon. Sifon adalah sebuah tradisi yang diterapkan untuk laki-laki yang sudah dewasa untuk berhubungan seks setelah disunat. Sifon tidak bisa dilakukan seetiap waktu, melainkan hanya masa panen saja. Laki-laki yang mengikuti tradisi unik ini biasanya di atas umur 17 tahun.

Kalau biasanya sunat menggunakan alat-alat medis, Suku Atoni Meto melakukan sunat dengan cara tradisional, yaitu dengan ujung bambu yang tajam. Para laki-laki yang melakukan sifon digiring ke sungai untuk berendam sebagai awalan. Mereka juga diminta untuk menghitung batu sebanyak jumlah wanita yang ia tiduri. Jika berbohong luka mereka setelah disunat akan sulit untuk sembuh.

Selanjutnya proses sunat tradisional dilakukan dengan menjepit kulit penis bagian atas dengan bambu, setelah itu tukang sunat atau ahalet langsung membalut bagian luka dengan daun kom agar tidak terjadi pendarahan. sebagai informasi daun kom biasanya digunakan untuk mengawetkan mayat di Sumba. Mereka yang disunat juga diminta untuk berendam di sungai yang airnya mengalir.

Ahalet juga meminta laki-laki yang telah disunat untuk meminum darah ayam yang sudah dicampur dengan air kelapa sebagai bagian dari ritual.

Dan ritual puncaknya adalah, pemuda yang telah disunat dengan kelamin yang belum kering harus berhubungan badan dengan wanita yang bukan istrinya. Entah darimana mereka mendatangkan perempuan yang akan diajak berhubungan badan tersebut.

Sifon sebenarnya dianggap tidak sopan karena melanggar etika dan norma, namun masyarakat setempat meyakini ritual ini harus dilestarikan. Menurut keyakinan mereka, jika pemuda tidak mau melakukan ritual ini, setelah sunat dia tidak akan bisa melakukan hubungan seksual dengan perempuan.

 

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending