Connect with us

Digest

Sebuah Solusi Memasarakan Produk UMKM Lebih Luas

Upaya pemerintah mengangkat penghasilan UMKM Produsen Sektor Pengolahan di Bangka Belitung salah satunya dengan melakukan kegitan Active Selling. Pelatihan tentang pemanfaatan aplikasi-aplikasi digital ini bertujuan agar UMKM mampu memperluas pasar. Pelatihan yang dilengkapi pendampingan selama enam bulan membuat peserta bisa langsung mempraktekan materi-materi yang diajarkan.

Vida, salah satu peserta Active Selling dari provinsi penghasil timah ini merasa beruntung karena kini ia memiliki tips-tips berjualan online dan sudah menjajal sendiri di aplikasi. Dengan bantuan fasilitator, Vida tak lagi bingung mengaplikasikan materi-materi pelatihan karena ia didampingi secara langsung. Kini sambalingkung produksi Vida sudah bisa ditemui di berbagai marketplace.

“Meskipun hanya sekali seminggu dikunjungi, tapi ini jauh lebaih baik karena lansung praktek di hape saya. Terkadang karena kesibukan di rumah dan sedang produksi, saya kurang nyangkut dengan pelatihan-pelatihan online”, tutur Vida yang menjadi salah satu dari 2.600 peserta Acttive Selling di wilayah Bangka Belitung.

Tantangan untuk meningkatkan pendapatan bagi usaha mikro cukup banyak. Dari perizinan, standarisasi, permodalan dan juga pemasaran. Active selling mencoba memberikan solusi bagi permasalahan pemasaran. Ketika barang yang diproduksi cepat laku, maka irama produksi dapat terus berdetak. Peserta lain dari Babel adalah Sri Anggi, pengusaha buket hadiah. Berbagai cara untuk mempertahankan bisnis di kala pandemi sudah dilakukan. Anggi sudah mengenal berbagai media sosial sebagai sarana pemasaran digital. Setelah mengikuti beberapa kelas di Active Selling, Anggi faham bahwa ternyata tips-trik berjualan online cukup mudah dipelajari dan diterapkan pada bidang usahanya.

“Ternyata untuk membuat posting kita menarik calon pembeli itu mudah ya. Di pelatihan ini ada fasilitator yang datang ke rumah saya untuk mendampingi kita pelatihan offline secara praktek seminggu sekali,” ujar Anggi.

Di Tanjung Pandan, fasilitator membuat jadwal visit bagi para peserta-peserta seperti Anggi. Pendampingan secara offline dilakukan untuk peserta secara kelompok maupun personal untuk memudahkan penyerapan materi-materi pelatihan.

I Nyoman Adhiarna, Direktur Ekonomi Digital Kementerian Kominfo mengatakan bahwa ada dua kelibuhan kegiatan active selling. Pertama adalah pelatihan dengan durasi waktu yang cukup lama, yakni selama enam bulan sehingga materi bukan hanya diterapkan, namun peserta juga diharapkan terampil. Kedua adalah adanya fasilitator yang siap mendampingi para peserta belajar praktek di loaski usaha mereka.

“Kenapa harus enam bulan, ya agar tidak setengah-setengah. Agar para peserta, UMKM ini terampil dalam memanfaatkan aplikasi-aplikasi digital suapya jualan mereka lebih laku, karena pasarnya jadi lebih luas. Nah jika perlu, ada kendala waktu misalnya waktu peserta habis untuk produksi, tidak bisa datang ke tempat pelatihan atau mungkin ada masalah perangkat kerasnya, ya sudah nanti fasilitator yang visit, supaya bisa langsung praktek. Kendalanya apa saja bisa diberikan solusi,” kata Nyoman.

Active Selling menyasar UMKM Produsen Sektor Pengolahan di 10 Wilayah Destinasi Wisata Pioritas, salah satunya Bangka Belitung yang terkenal dengan wisata pantai. Untuk menumbuh kembangkan UMKM di daerah tersebut, Ditjen Aptika Kementerian Kominfo menyelenggarakan pelatihan pemanfaatan aplikasi-aplikasi digital agar proses bisnis menjadi lebih efektif dan efisien. Pemanfaatan media sosial dan marektplace untuk memperluas pasar harus dimaksimalkan memalui berbagai tips dan triknya. Kemudian peserta juga dipandu juga untuk menggunakan apikasi agrgator dan P.O.S. agar monitoring dan pencatatannya lebih baik.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending