Connect with us

Culture

Ritual Mattompang Arajang: Penyucian Benda Pusaka Raja-Raja Bone

Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai kota beradat menyimpan beragam keunikan dan estetika budaya. Dalam rangka Hari Jadi Bone terselip sebuah ritual adat nan sakral yakni Mattompang Arajang.

Mattompang atau Mappepaccing berarti menyucikan. Arajang bermakna benda atau sekumpulan benda pusaka nan sakral peninggalan kerajaan Bone.

Upacara sakral ini sejatinya rutin setiap tahun dilaksanakan, namun baru tahun ini diusianya yang ke-689 tahun, Bone menunjukkan jati dirinya sebagai daerah yang mempunyai perjalanan sejarah yang cukup panjang.

Sabtu pagi, 6 April 2019, alun-alun kota disesaki sekitar 3 ribu masyarakat Bone berbalut pakaian adat begitu antusias menyaksikan ritual adat yang terbilang langka ini. Untuk pertama kalinya benda pusaka peninggalan raja-raja Bone dipamerkan untuk umum.

Benda-benda pusaka yang ditompang meliputi Teddung Pulaweng (Payung emas), Sembangeng Pulaweng (selempang emas), Kelewang LaTea RiDuni, Keris La Makkawa, Tombak La Sagala, Kelewang Alameng Tata Rapeng (Senjata adat tujuh atau Ade’ Pitu)

Pencucian benda pusaka tersebut menggunakan beberapa air sumur yang berada di Kabupaten Bone. Yakni Bubung Parani, Bubung Bissu, Bubung Tello’, dan Bubung Laccokkong. Sumber mata air ini dikumpulkan sebagai bahan pembersihan pusaka.

Ritual Mattompang tersebut dilakukan dalam beberapa tahap. Dimulai dengan Mallekke Toja yaitu pengambilan air di tujuh sumur untuk pembersihan arajang. Dilanjutkan dengan Matteddu Arajang atau mengeluarkan benda-benda pusaka dari tempatnya yang kemudian dibawa ke tempat Mattompang oleh para bissu.

Tahapan selanjutnya disebut ‘memmang to rilangi’ atau kata-kata yang diucapkan oleh bissu yang berisi permohonan izin untuk membersihkan arajang. Dilanjutkan dengan inti acara yaitu “massossoro atau mattompang arajang” yang bermakna mencuci benda-benda pusaka yang dilakukan oleh empat orang panre bessi (pandai besi kerajaan) diiringi dengan sere alusu atau gerakan-gerakan yang dilakukan oleh tujuh bissu masing-masing bali sumange, ana beccing, dan kancing diiringi genderang.

Gubernur Sulawesi Selatan HM Nurdin Abdullah mengaku terkesima dengan Kabupaten Bone karena mampu merawat dan melestarikan budaya dan benda pusaka yang dimiliki Kerajaan Bone.

“Kita apresiasi Kabupaten Bone begitu melestarikan budayanya, terus memberikan sebuah inspirasi orang datang ke museum ini, bahwa betapa dulu itu Bone adalah kerajaan besar,” kata Nurdin Abdullah saat mengunjungi Museum Arajang Kompleks Rumah Jabatan Bupati Bone.

Sementara itu Bupati Bone, Andi Fashar M Padjalangi menegaskan kebesaran suatu daerah ditunjukkan identitas jati diri yang kuat, dengan begitu ia dapat dibedakan dengan daerah lainnya.

“Bone tidak hanya karena wilayah dan penduduk yang besar, tetapi memiliki kesemuanya, itulah sebabnya menjadikan Bone hebat dan kesohor di mana-mana karena mampu menjaga kearifan lokalnya,” ujar Fahsar.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending