Connect with us

Culture

Pulau Nias: Surga Budaya di Tengah Samudera

Berkunjung ke Pulau Nias serasa menelusuri kehidupan masa lalu dengan mesin waktu. Waktu seakan berhenti ketika melihat budaya megalit yang masih lestari. Di tengah Samudera Hindia, pulau ini menjadi rumah bagi budaya zaman batu yang elok.

Memiliki luas sekitar 5.000 km2, Pulau Nias selalu apik dan mempesona untuk dijamah. Pulau ini terdiri dari 27 pulau kecil dan 11 di antaranya merupakan pulau yang berpenghuni termasuk Pulau Nias, Pulau Simeuleu, Pulau Mentawai, dan Pulau Enggano. Dan Pulau Nias adalah pulau yang paling besar di antara pulau-pulau di sekitarnya. Buat kamu yang ingin menjelajah kemegahan surga budaya Nias, akan tersedia beberapa fasilitas menginap di Gunungsituli, ibu kota Nias. Di sini terdapat pula Museum Pusaka Nias yang menyimpan sekitar 6.500 koleksi benda budaya masyarakat lokal.

Sejak berabad-abad yang lalu, Pulau Nias dihuni oleh masyarakat yang hidup mandiri. Kebudayaan mereka masih sangat terjaga ke asliannya dari “kontaminasi” budaya barat, maka tidak heran budaya yang mereka jaga menjadi magnet bagi wisatawan yang datang. Dalam bahasa setempat, orang Nias sering menamakan diri mereka “Ona Niha” yang berarti Anak Manusia.

Nias terkenal dengan budaya batunya, salah satu yang paling tersohor adalah atraksi lompat batu yang dilakukan oleh pemuda lokal dengan melompati dinding batu setinggi 2 meter. Fahombe atau tradisi lompat batu lahir dari kebiasaan berperang antardesa di Nias. Tradisi tersebut dahulu di khususkan sebagai persiapan perang dimana setiap desa membentengi dengan bambu setinggi 2 meter, sehingga para pria desa harus dilatih untuk bisa melompati benteng tersebut. Tradisi ini juga sebagai uji keberanian dan kedewasaan anak laki-laki Pulau Nias.

Apabila kamu ingin merasakan kemegahan budaya Nias, cobala untuk berjalan-jalan I desa-desa sekitar untuk melihat rumah dengan arsitektur unik yang dibangun sejak berabad-abad yang lalu. Menariknya, rumah yang berada di Desa Hilisimaetano ini tahan gempa dengan pilar-pilar yang bertumpu pada bongkahan batu. Pilar-pilar itu dibuat dengan tumpukkan batu yang miring sehingga menciptakan struktur tiga dimensi yang kuat. Ada yang bilang disain rumah bak kapal kayu ini terinspirasi dari kapal-kapal Belanda yang membawa rempah-rempah. Melihat ukiran kayu yang rumit tersebut akan membuat kamu takjub apabila mengunjungi rumah penduduk di wilayah ini.

Rumah adat masyarakat Nias

Pulau Nias berada di pantai Barat Sumatera Utara. Gunungsitoli merupakan pintu gerbang ke Pulau Nias. Bandara Binaka berjarak 15 km dari kota. Untuk mencapainya ada beberapa rute yaitu melalui Kota Medan atau Padang. Setiap harinya setidaknya ada dua penerbangan, pagi dan siang. Dari Padang ada dua jalur alternatif melalui darat dan udara. Jalan darat dari Padang harus ke Sibolga terlebih dahulu dengan lama perjalanan sekira 6 jam. Dari Sibolga menuju Gunung Sitoli menggunakan kapal fery cepat selama 3 jam dengan tarif termahal Rp100.000,-. Melalui jalur udara maka kamu bisa menggunakan penerbangan perintis maskapai penerbangan SMAC yang beroperasi hanya pada Senin dan Jumat. Dari Padang transit sebentar ke Pulau Telo kemudian dari sana langsung ke Binaka. Tarifnya penerbanganya Rp250.000,-.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending