Connect with us

Profile

Musaffar Syah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan

Sektor pariwisata kawasan timur Indonesia makin menggeliat. Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara Timur, Barat, Maluku kesemuanya bak kepingan surga.
Salah satunya Provinsi Sulawesi Selatan yang terus berbenah di sektor ini. Faktanya daratan yang kerab disebut Celebes ini menyimpan potensi wisata luar biasa yang memikat wisatawan nusantara maupun mancanegara.
Pesona wisata Sulsel kian menunjukkan taring. Hal tersebut terbukti dari terus meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan. Tahun ini jumlah wisatawan ke Sulsel rata-rata pertumbuhannya mencapai 11 persen.
Tahun lalu 220 ribu wisatawan, tahun ini targetnya 250 ribu wisatawan mancanegara. Sedangkan Wisatawan nusantara capai 8 juta orang.
Makin bergeliatnya pariwisata Sulawesi Selatan tak terlepas dari tangan dingin Musaffar Syah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan. Instansi yang dipimpinnya terus menggenjot pengembangan destinasi dan obyek wisata baru.
Sejumlah infrastruktur pendukung juga dibenahi untuk kemudahan berwisata. Pengembangan tersebut diharapkan dapat meningkatkan jumlah kunjungan dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.
Musaffar, demikian pria 59 tahun ini biasa disapa. Ia meniti karir sebagai birokrat sejak tahun 1986. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Hasanuddin Makassar di bidang ilmu Administrasi Negara, Musaffar lalu diangkat sebagai abdi negara.
Pertama kali ia ditempatkan di Bappeda Kabupaten Mamuju (ketika itu masih menjadi bagian dari Sulsel) selama 4 tahun. “Disana saya digembleng bekerja tanpa staf, kami yang mengetik, kami yang merencanakan pembangunan daerah, kami juga yang mengantar ke dewan. Hanya berlima,” ungkapnya.
Selama 4 tahun bertugas di Mamuju, Musaffar dipindahkan ke Makassar ditempatkan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil selama 5 tahun. Lalu pindah ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel.
“Setelah itu pindah ke Dinas Pariwisata Kabupaten Maros selama 5 tahun.”
Menakhodai sektor pariwisata Maros, Musaffar melakukan pembenahan sistem besar-besaran. “Pertama yang saya lakukan adalah mengundang turis, pelaku usaha pariwisata untuk mengunjungi objek Wisata di Maros. Saya serap aspirasi mereka, kekurangannya apa saja dan saya menjadikan mereka tim penilai untuk membenahi sektor pariwisata Kabupaten Maros,” kisah Musaffar.
Yang menjadi fokusnya ketika itu adalah pendapatan Taman Wisata Bantimurung yang jauh dari harapan dan kenyataan. Saat itu pendapatan obyek wisata unggulan ini hanya Rp 100-200 Juta pertahun.
“Saya lalu berpikir mengapa pendapatannya sedikit padahal pengunjung selalu ramai. Ternyata sistem yang tidak beres, terlalu banyak memo dari pemda setempat sehingga masuk tempat wisata itu gratis. Saya lalu menemui Bupati meminta dukungan untuk membenahi sistem itu. Beliau mendukung saya.”
“Saya kerahkan kepolisian dan TNI di tempat karcis untuk siapa pun masuk lokasi wisata harus bayar. Terbukti pendapatan Bantimurung langsung naik tiga kali lipat sampai Rp 600 juta. Terus meningkat sampai Rp 1,5 Miliar,” urainya.
Hal lain yang ia benahi adalah penataan pedagang kaki lima di lokasi obyek wisata. Tak mudah untuk menertibkan pedagang yang telah bertahun-tahun menggelar lapak yang menyatu dengan wisatawan.
Segala cara ia lakukan untuk menata pedagang mulai dari sosialisasi, memberi pemahaman lisan hingga tindakan paksa.
“Saya tertibkan, mereka demo saya di DPRD. Saya kasih pemahaman bahwa saya akan memberi mereka tempat berjualan di dekat area parkir, lebih terpusat dan tertib. Sampai sekarang tidak ada lagi pedagang yang berjualan di lokasi wisata,” katanya tersenyum.
Bagi Musaffar, potensi wisata Sulawesi Selatan sungguh luar biasa. Bahkan mampu bersaing dengan daerah lain sekaliber pulau dewata, Bali yang memang gaungnya telah mendunia.
Sulsel memiliki paket wisata yang lengkap, mulai dari Lolai di Tana Toraja, Pulau Cambang-Cambang di Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Kolam Bidadari di Barru, Pantai Marina di Bantaeng, dan kawasan Geopark Maros-Pangkep di antaranya Rammang-Rammang.
Ada juga kawasan Pantai Bira di Bulukumba, wisata bawah laut Takabonerate di Kepulauan Selayar, Pantai Liukang di Takalar, Pulau Samalona di Makassar, dan Air Terjun Karangan di Jeneponto.
Konektivitas
Yang menjadi kelemahan saat ini adalah konektivitas antar lokasi wisata. Terlalu jauh dan membutuhkan waktu lama untuk mencapai objek wisata.
“Targetnya 2019 akan dibenahi konektivitas tersebut berupa pembangunan bandara di Toraja. Selain itu Selayar akan ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) oleh Kementerian Pariwisata. Kalau ini sudah disahkan,  saya optimis pariwisata Sulsel akan meningkat tajam, pungkasnya.
Selain konektivitas, kelemaham lainnya adalah sarana akomodasi masih terbatas. Belum cukup memenuhi kebutuhan wisatawan.
“Kuncinya adalah sosialisasi sadar wisata. Kami tidak henti-hentinya mensosialisasikan program sadar wisata ini. Memberi pemahaman kepada masyarakat setempat untuk menjaga kebersihan dan ketertiban.”
Di penghujung karirnya sebagai abdi negara, Musaffar berkomitmen menjadikan Sulawesi Selatan sebagai kiblat wisata dunia menyaingi Pulau Dewata. Semua berpulang dari performa tanpa batas untuk negeri.
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending