Connect with us

Culture

Mengenal Tradisi Suku Sasak di Dusun Sade

Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, etnis, budaya maupun bahasa yang tersebar dari Sabang Hingga Merauke. Keberagaman inilah yang menjadikan Indonesia dikenal oleh dunia.

Salah pulau yang masih mempertahankan baik dari segi bangunan dan adat budaya sampai saat ini adalah Dusun Sade. Dusun Sade adalah cerminan suku asli Sasak yang masih bertahan hingga saat ini.

Berlokasi di desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, dusun ini sudah banyak dikenal oleh kalangan wisatawan baik domestik maupun Mancanegara yang sedang berkunjung ke Lombok. Karena dusun ini adalah menjadi salah satu desa wisata yang ada di Lombok.

Amak Vano yang merupakan suku asli dari kampung sini menjelaskan, Sade mepunyai arti yaitu kesadaran. Jumlah penduduk didesa ini sekitar 700 jiwa yang merupakan orang asli suku sasak dan terdiri dari 150 rumah dari 150 kepala keluarga. Dalam suku sasak yang akan mewarisi rumah yaitu anak bungsu khususnya pria, kemudian untuk anak sulung pergi keluar untuk membuat rumah di persawahan.

“Banyak tradisi unik yang ada di Dusun Sade, diantaranya, kawin lari atau kawin culik. Disebut kawin lari atau kawin culik karena dalam tradisi suku sasak tidak diperbolehkan untuk melamar atau tunangan karena itu melanggar adat dan itu juga dianggap tidak menghormati orang tua disini,” ujar Amak Vano kepada rombongan wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) dalam kegiatan Press Tour pada tanggal 7-9 Desember 2020 di Nusa Tenggara Barat.

Kawin lari di artikan sebagai kawin suka sama suka antara pria dan wanita asalkan saling cinta. Sedangkan kawin culik adalah kawin antar sepupu yang diartikan apabila antara pria dan wanita sama-sam tidak menyukai, itu bisa dipaksa asalkan masih ada ikatan hubungan keluarga. Dan untuk kawin culik ini tidak boleh dibawa lari pada siang hari, melainkan harus malam hari dan jangan sampai ketahuan.

Sementara itu, hasil panen suku sasak tidak untuk dijual, melainkan dikonsumsi sendiri. Karena panen disini hanya sekali dalam setahun, karena disini tidak ada irigasi dan hanya mengharapkan turun hujan saja. Makanya untuk kerja tambahan, anak perempuan disini diwajibkan untuk membuat tenun sejak umur 8 tahun agar mempunyai keterampilan, karena kalau tidak bisa menenun maka saat dewasa nanti tidak boleh menikah.

Kemudian ada tradisi yang sangat unik lainnya, yaitu tradisi belulut yang merupakan tradisi mengepel lantai dengan menggunakan kotoran sapi yang masih hangat. Tujuan mengepel menggunakan kotoran sapi adalah agar dapat menyerap debu dan lantai menjadi kuat.

Di dusun ini, masyarakatnya pun banyak membuat keterampilan dalam membuat pernak pernik seperti, gelang, kalung, topi, kain tenun dan masih banyak lagi. Hasil-hasil kerajinan tersebut untuk dijual kepada para wisatawan yang berkunjung ke dusun ini.

Sambil melihat pernak pernik yang ditawarkan warga di dusun sade, wisatawan akan disuguhkan berbagai jenis bentuk rumah yang ada di dusun sade. Rumah di dusun ini terdiri dari kayu, bambu dan atapnya yang masih menggunakan jerami. Untuk pintu depannya dibuat agak pendek, tujuannya agar  siapapun yang masuk agar merunduk. Tujuannya agar saling menghormati kepada tuan rumah, karena itu filosofi dari orang tua terdahulu di suku sasak.

Dari luar kita dapat melihat bentuk atap yang menjulang tinggi. Untuk bagian dalam rumah terdiri dari 2 bagian, bagian depan untuk tempat menerima tamu dan bagian belakang dipergunakan sebagai dapur.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending