Connect with us

Food & Drink

Liberica, Kopi Sedap yang Hanya Ada di Jambi!

booth stand disperindag Jambi di Pameran & Expo Kopi Nusantara 2018

Berbicara soal cita rasa kopi, tak bisa dimungkiri jika kini hal tersebut sudah menjadi sebuah gaya hidup yang kian digandrungi. Bahkan tak hanya di Jakarta, tren menyeruput secangkir kopi sembari bersenda gurau juga merambah kalangan anak muda di daerah, salah satunya kawula muda di Jambi.

Diungkapkan Sekretaris Disperindag Provinsi Jambi, Nataluddin, banyak anak muda di Jambi yang gemar mengonsumsi aneka jenis kopi di kedai-kedai dan kafe-kafe kopi yang berjejer di kawasan Kota Jambi. “Kopi bikin anak muda Jambi beralih dari hal-hal negatif. Mereka sekarang kalau nongkrong ke kedai atau kafe kopi, beramai-ramai,” ujar Nataluddin, saat ditemui di Pameran & Expo Kopi Nusantara 2018.

Lantas, jenis kopi apa saja yang sebenarnya dimiliki Kota Jambi? Menjawab pertanyaan itu, Nataluddin mengatakan ada kopi robusta, arabica, dan liberica. Dari ketiga jenis kopi itu, Nataluddin menyoroti jenis liberica. Ada apa dengan kopi liberica?

Usut punya usut, rupanya liberica ini merupakan jenis kopi satu-satunya yang hanya ada di Jambi. Tak hanya menjadi satu-satunya, liberica juga memiliki keunikan tersendiri, yang mana kopi jenis ini tumbuh dan berkembang biak di tanah gambut.

Sekretaris Perindag Provinsi Jambi, Nataluddin

Di sisi lain, meski kualitas dan pamornya masih kalah dengan jenis kopi robusta dan arabica, jelas Nataluddin, liberica memiliki harga jual yang lebih mahal. “Sekilo liberica dijual dengan harga 120 ribu. Kalau arabika atau robusta sekilonya berkisar antara 60-70 ribu,” kata Nataluddin.

Soal harga yang lebih mahal, Nataluddin menjelaskan bahwa hal tersebut disebabkan kopi liberica sudah memiliki pembeli tersendiri, sehingga masyarakat sangat sulit untuk mendapatkannya, terkecuali untuk acara-acara tertentu.

“Mahal bukan karena langka, tapi petani yang menanam kopi liberica sudah punya pembeli sendiri. Pembelinya perusahaan minyak. Pas panen, kopi liberica diborong semua (berapapun produknya). Jadi, kalau masyarakat mau beli harganya pasti mahal, apalagi kalau untuk bisnis,” beber Nataluddin.

Selain itu, mahalnya kopi liberica juga disebabkan oleh minimnya hasilnya ketika menjadi kopi bubuk. Misalnya, satu kilogram biji kopi liberica ketika diolah hanya menjadi sekitar 100 gram kopi bubuk, sementara dengan jumlah yang sama, kopi arabika dan robusta bisa menghasilkan 700 gram kopi bubuk. Minimnya hasil olahan tersebut disebabkan oleh kulit biji kopi liberica yang lebih tebal dibanding kopi arabika dan robusta.

Meski liberica merupakan kopi unik, akan tetapi Nataluddin tak menampik jika kopi arabika dan robusta khas Jambi juga mempunyai cita rasa yang ciamik serta memiliki penggemar tersendiri. Untuk kopi robusta misalnya. Nataluddin mengatakan jika tanaman kopi robusta di Jambi ditanam pada lahan yang berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut dan umurnya sudah ratusan tahun.

“Kalau untuk cita rasa robusta khas Jambi itu agak asam yang khas, sedangkan arabika dari Jambi lebih sweetness. Dan di Jambi itu, pengolahannya dilakukan secara homemade skala rumah tangga. Jadi benar-benar murni dan asli. Dan perlu diketahui bahwa kopi-kopi dari Jambi sudah diimpor ke berbagai negara, Australia, Eropa, dan Amerika. Untuk Amerika, kopi kami paling banyak beredar di daerah Virginia,” pungkas Nataluddin.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending