Connect with us

Digest

KEK Menjadi Roda Menggerak Pariwisata Hiramsyah S. Thaib. : ‘Percepatan’ adalah sebuah mindset

Beberapa tahun belakangan ini industri pariwisata ini Indonesia semakin bergairah. Ini terbukti dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dari sektor pariwisata sebesar 12,58 % di tahun 2018. Bahkan pada 2017 Indonesia berhasil tumbuh sebesar 22%.

Salah satu strategi Kementrian Pariwisata Republik Indonesia (Kemenpar) untuk mempertahan pertumbuhan double digit di sektor pariwisata adalah membangun 100 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang diharapkan menjadi roda penggerak pariwisata.

Dalam kancah pariwisata internasional, Bali bisa dikatakan destinasi yang paling terkenal di antara destinasi lainnya. Nama Bali selalu mentereng di mata wisatawan mancanegara dibandingkan nama Indonesia sendiri. Tak heran jika Pulau Dewata memiliki traffic puller yang sangat dominan. Bali seolah sudah ditakdirkan menjadi suatu destinasi yang lengkap. Tentu bisa dibayangkan kontribusi pariwisata terhadap produk domestik bruto apabila Indonesia memiliki beberapa daerah seperti Bali.

Menurut riset World Travel and Tourism Council (WTTC) di 185 negara, PDB pariwisata menyumbang 10,4 persen dari total PDB dunia yaitu 8 triliun dollar AS. Pertumbuhan PDB pariwisata naik 3,9 persen pada 2018, menenpatkannya di posisi kedua setelah manufaktur 4,0 persen. AS, China, Jepang, Jerman, dan Inggris adalah lima pasar terbesar pada 2018.

Usaha pemerintah di sektor pariwisata untuk bersaing di kancah dunia harus diacungi jempol. Untuk mempertahankan eksistensi tersebut salah satu kebijakan yang dilakukan Presiden RI Jokowidodo dan Menteri Pariwisata adalah membentuk Tim Percepatan Pembangunan 10 destinasi unggulan selain Bali.

Fungsinya, untuk melakukan pendataan, pendalaman, dan merumuskan langkah besar apa saja untuk membangun daerah tersebut. Mereka sudah mendapatkan materi “critical success factor” satu kunci yang jika itu tidak dituntaskan akan menjadi palang pintu pengganjal di titik-titik destinasi itu.

“Percepatan terjadi di seluruh tahapan, termasuk me-review ulang yang namanya bisnis proses. Itu nanti yang mungkin menurut saya sesuatu yang berbeda dari spirit percepatan. ‘10 Bali Baru’ secara mudah ingin membangun ‘10 Nusa Dua Baru’, sekarang dimaksud dengan ‘10 Bali Baru’ yaitu membangun 10 destinasi yang mempunyai prestasi seperti Bali dari sisi pelestarian budaya dan alam dari sisi mensejahterakan masyarakat yang mampu menghasilkan devisa, mampu membuat Bali dikenal di seluruh dunia,” kata Ketua Tim Percepatan Pembangunan Pariwisata Kemenpar RI Hiramsyah Sambudhy Thaib.

Lulusan Fakultas Arsitektur ini menjelaskan, dengan dibentuknya ‘10 Bali Baru’ dengan berdasarkan data yang ada justru saling memperkuat dan menunjang dan makin memperkuat posisinya Bali. “Karena walau bagaimanapun sudah ada beberapa wisatawan yang ingin ke Bali dan biasanya mereka stay satu mingggu justru mereka bisa menambah durasi tiga hari. Bali itu masih menjadi benchmark pariwisata Indonesia, jadi dengan adanya 10 Bali baru, keberadaan Bali sendiri akan tetap kuat posisinya,” tambahnya.

Menurutnya Indonesia sebenarnya merupakan destinasi utama pariwisata dunia, tetapi Indonesia masih tertinggal jauh dari Negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand. Di tahun 2018 kunjungan Wisman ke Indonesia sekitar 16 juta, sedangkan Thailand 40 juta.

Apa itu ‘percepatan’?

Menariknya, Mantan CEO PT Bakrieland Development, Tbk. ini juga mejelaskan bahwa arti dari percepatan itu adalah sebuah mindset kemudian dieksekusi melalui mekanisme. “Yang paling penting yaitu maindsetnya harus percepatan dulu. Kalau maindsetnya percepatan, nanti dia akan diikuti pemikirannya oleh percepatan, kemudian cara berpikirnya percepatan. Kalau sudah maindsetnya percepatan akan membuat program kerja yang juga mengandung spirit percepatan dan yang ujung-ujungnya adalah eksekusinya percepatan,” terangnya.

“Definisi percepatan dilakukan sejak tahap fishening, bukan hanya di eksekusi. Kita secara gampangnya itu kan biasanya dilakukan menjadi tiga tahapan, fishening, programing, eksekusi. Ke-3 tahapan tersebut merupakan percepatan. Jadi percepatan itu bukan hanya di eksekusi, selama ini kan seolah-olah ada pemahaman percepatan itu hanya dieksekusi,” lanjut pria kelahiran 1962 ini.

Di era pemerintahan Presiden Jokowi, pariwisata di jadikan sektor prioritas dan unggulan, sehingga seluruh fokus dan sumber daya mengarah ke pariwisata. Jadi sektor pariwisata bukan hanya jadi tugas kementerian pariwisata, tetapi menjadi seluruh tugas pentahelix.

Dari perkembangan 10 Bali baru, yang difokuskan oleh pemerintah ada 5 Destinasi Super prioritas, yaitu Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo dan satu lagi yang sedang didorong sebagai prioritas yaitu Likupang. Dari destinasi prioritas yang sedang difokuskan oleh pemerintah tersebut, salah satu yang menjadi ujung tombak parwisata Indonesia.

Dia berharap dengan spirit berkolaborasi jadi 5 Destinasi Super prioritas ini diharapkan akan menjadi lokomotif untuk 10 Bali baru dan untuk destinasi-destinasi lainnya. “Contohnya Danau Toba itu kan bukan destinasi yang dibangun dan dimulai dari nol, tetapi destinasi yang bahkan sebelum merdeka pun sudah menjadi destinasi unggulan. Tetapi karena masalah di aksesibilitas dia mengalami kemunduran, yang dilakukan sekarang ini adalah merevitalisasi Danau Toba untuk menjadi primadona seperti yang pernah terjadi di masa lampau,” kata Hiramsyah.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending