Connect with us

Tour

Bangkitkan Pariwisata Bromo, Kemenparekraf Gaungkan Gerakan Pakai Masker dan Gerakan BISA

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf)/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Baparekraf) mendeklarasikan gerakan Bersih, Indah, Sehat dan Aman (BISA) di Puncak Seruni Ngadisari Taman Nasional Bromo Tengger, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Selain gerakan BISA, Kemenparekraf/Baparekraf juga menginisiasi Gerakan Pakai Masker (GPM).

Bukan tanpa alasan kegiatan tersebut dihelat. Deputi Kebijakan Strategis Kemenparekraf/Baparekraf, Kurleni Ukar mengatakan, kegiatan ini diisisiasi untuk mendorong pemulihan industri pariwisata yang terdampak pandemi Covid-19. Selain itu, gerakan ini juga digagas sebagai landasan bagi masyarakat untuk berwisata di tengah kehidupan normal baru. 

“Program Gerakan BISA dan Gerakan Pakai Masker merupakan kebijakan Kemenparekraf untuk mendukung protokol kesehatan di destinasi wisata. Untuk keamanan dan kenyamanan kita bersama, gerakan ini diluncurkan. Gerakan ini sudah kami lakukan di 38 kabupaten/kota” kata Kurleni Ukar, Sabtu (5/9/2020).

Gerakan BISA dan GPM, Ukar melanjutkan, merupakan upaya untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap destinasi wisata di tengah pandemi Covid-19. Tujuannya untuk menggairahkan pariwisata dengan pola baru bagi masyarakat yang sedang berlibur. Ia berharap sinergi gerakan BISA dan GPM mampu membangkitkan geliat industri pariwisata di daerah. “Program ini untuk mengakselerasi industri pariwisata dan ekonomi kreatif,” tuturnya. 

Ia optimistis gerakan ini menjadi tameng penularan Covid-19 sepanjang diterapkan dengan disiplin. Ia mengajak para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif menerapkan secara sungguh-sungguh protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah. Gerakan ini juga menjadi penanda dibukanya kembali destinadi wisata secara bertahap pada era adaptasi kebiasaan baru.

“Kegiatan ini merupakan momentum kesiapan industri pariwisata dan masyarakat untuk melaksanakan secara konsisten protokol kesehatan di destinasi wisata,” katanya. 

Ia melanjutkan, Gerakan BISA diselenggarakan untuk merespon amanat Presiden Joko Widodo untuk menggerakkan ekonomi kreatif padat karya. “Kegiatan ini berusaha mengajak untuk membangkitkan kembali nilai sapta pesona yakni aman, tertib, bersih, sejuk dan lain sebagainya,” kata dia. Aman yang dimaksud salah satunya adalah menggunakan masker di manapun berada. Menurutnya, masker merupakan proteksi pertama kita dari penularan Covid-19. “Kita juga harus tertib menjalankan protokol kesehatan. Salah satu tujuan kegiatan ini juga mengangkat nilai-nilai kebersihan,” ucapnya.

Ia melanjutkan, berdasarkan Travel and Tourism Competitiveness Index, daya saing pariwisata Indonesia berada pada posisi 102 dari 104 negara. Melalui kegiatan ini, Kurleni Ukar berharap dapat membangkitkan nilai indeks pariwisata Indonesia. “Kita ingin membangkitkan kembali pariwisata dan ekonomi kreatif. Tentu tidak bisa sendiri. Kita harus bersama-sama. Inilh kunci untuk bangkit menyelamatkan Indonesia,” papar dia.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Budaya Kabupaten Probolinggo Sugeng Wiyanto mengucapkan terima kasih gerakan BISA dan Gerakan Pakai Masker diselenggarkan di Bromo Tengger Semeru. “Melalui gerakan ini kami optimistis akan membangkitkan kembali industri pariwisata dan menciptakan kepercayaan kepada wisatawan domestik dan mancanegara kalau wisata kita aman dan mematuhi protokol kesehatan,” ucapnya.

Ketua Gerakan Pakai Masker, Sigit Pramono menjelaskan, saat ini kita sedang diibaratkan sedang berperang. Bukan menggunakan senjata api, namun alat peperangan kita sangat sederhana, yakni masker. “Masker menjadi pelindung kita agar tercipta rasa aman, agar wisatawan datang ke destinasi wisata kita. Masker menjadi andalan dunia wisata kita,” paparnya.

Dalam kurun waktu tiga bulan, Sigit menerangkan jika organisasinya telah melakukan kampanye dan penyuluhan di lebih dari 1.200 pasar di seluruh Indonesia dan menjangkau 7 juta lebih pedagang. “Juga kami menjangkau 50 pesantren yang mencakup 54 ribu santri dan 1.000 lebih guru. Daerah dan kawasan yang menjadi pusat kerumunan juga kami sasar, di antaranya adalah destinasi wisata,” ujarnya. 

Masker, Sigit melanjutkan, dapat mengurangi risiko penularan Covid-19 sekitar 70-75 persen. Atas dasar hal itu, untuk menciptakan rasa aman penggunaan masker merupakan hal mutlak yang tak boleh diabaikan. Maka dari itu, ia menekankan pentingnya para pelaku pariwisata untuk mematuhi protokol kesehatan sebagaimana ditetapkan pemerintah. 

“Pelaku wisata harus mematuhi protokol pencegahan Covid-19. Kalau hal itu dipatuhi, dengan sendirinya turis akan datang, karena mereka merasa aman dan nyaman. Fasilitas pendukung juga harus memberikan kepercayaan kepada turis untuk disiplin. Tegurlah dengan baik wisatawan yang tidak memakai masker,” imbuhnya. 

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending